04 Januari 2012

Contoh Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bidang Olahraga


BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kebutuhan penting bagi setiap manusia. Selain itu pendidikan adalah sektor yang strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga diperoleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Oleh karena itu pendidikan harus ditumbuh kembangkan secara sistematis, sehingga tercipta suatu sistem pendidikan yang dapat menghasilkan SDM yang berkualitas. Peningkatan mutu pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh yang meliputi beberapa aspek antara lain aspek moral, pengetahuan, keterampilan, seni, olah raga, dan perilaku. Pendidikan dapat dilakukan baik secara formal, maupun non formal. Pendidikan formal diperoleh melalui kegiatan pembelajaran di sekolah, sedangkan non formal dapat dilakukan di luar lingkungan sekolah. Pendidikan formal yang biasanya dilaksanakan sekolah merupakan salah satu sarana yang tepat untuk meningkatkan kualitas SDM dan untuk mendukung perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Dengan demikian pendidikan formal harus menyelenggarakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan perlu diberikan kepada semua peserta didik karena bertujuan untuk mengembangkan ketrampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagi aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih. Pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan pembelajaran yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan fisik, psikis, ketrampilan motorik, pengetahuan, penalaran, serta pembiasaan pola hidup sehat. Dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI (BSNP, 2007: 2), salah satu ruang lingkup aspek mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan adalah aktivitas ritmik. Aktivitas ritmik ini disebut senam, yaitu yang meliputi gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobik.
Perkembangan kurikulum dewasa ini menuntut partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran dari tingkat SD sampai Sekolah Menengah. Peran aktif siswa sangat menentukan terhadap keberhasilan pembelajaran. Proses belajar mengajar masih cenderung teacher centered dibandingkan student centered. Hal inilah yang mengakibatkan pola belajar siswa cenderung menghafal, serta kemampuan berpikir dan daya analisis siswa kurang berkembang. Dengan proses pembelajaran yang seperti itu, siswa merasa kurang tertarik dan cepat bosan terhadap pembelajaran senam kesegaran jasmani.
Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa kelas VI SD N 1 Wuryantoro  diperoleh informasi bahwa pelajaran senam kesegaran jasmani merupakan pelajaran yang diangap sulit oleh siswa. Gerakan senam kesegaran jasmani, dianggap sesuatu yang rumit, membutuhkan energi, pikiran, dan waktu yang banyak untuk melakukannya. Anggapan ini mengakibatkan beberapa siswa menjadi malas belajar senam kesegaran jasmani, sehingga beberapa siswa masih enggan untuk ikut berperan aktif pada saat pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hasil pengamatan pada siswa kelas VI SD N 1 Wuryantoro  bahwa pembelajaran penjasorkes, khususnya pada materi senam kesegaran jasmani, siswa cenderung pasif. Mereka kurang tertarik dengan pembelajaran senam, sehingga siswa merasa bosan dalam pembelajaran ini. Siswa cenderung melakukan aktivitas lain yang lebih menarik perhatian, misalnya seperti bermain, sering mengganggu temannya pada waktu pelajaran dan mengobrol dengan temannya. Pada saat pembelajaran berlangsung siswa cenderung bersikap pasif, enggan bertanya, takut atau malu untuk bertanya. Siswa jarang berdiskusi dengan temannya. Bila ada yang kurang paham atau tidak mengerti tentang suatu materi mereka cenderung untuk diam. Keadaan siswa seperti tersebut jika didiamkan akan menyebabkan siswa akan semakin mengalami kesulitan dalam mempelajari dan memahami materi yang dipelajari.
Salah satu solusi pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran yang mengutamakan keterlibatan siswa dalam belajar secara aktif. Setelah mengetahui permasalahan serta kondisi siswa kelas VI di SD N 1 Wuryantoro, maka peneliti tertarik untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan motivasi Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) pada siswa kelas VI SD N I Wuryantoro. Diharapkan dengan model pembelajaran kooperatif motivasi siswa dalam mengikuti senam kesegaran jasmani dapat meningkat.

B.           Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah, maka rumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Bagaimanakah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan motivasi Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) pada siswa kelas VI SD N I Wuryantoro?
2.      Bagaimanakah peningkatan motivasi Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif pada siswa kelas VI SD N I Wuryantoro ?
3.      Bagaimanakah respon siswa kelas VI SD N I Wuryantoro setelah mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif ?
C.           Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.      Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan motivasi Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) pada siswa kelas VI SD N I Wuryantoro
2.      Mendeskripsikan motivasi Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif pada siswa kelas VI SD N I Wuryantoro.
3.      Mendeskripsikan respon siswa kelas VI SD N I Wuryantoro setelah mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif.
D.           Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagi guru dan calon guru dapat mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran dengan model kooperatif untuk meningkatkan motivasi Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) pada siswa kelas VI SD N I Wuryantoro.
2.      Bagi siswa, dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran senam kesegaran jasmani.


BAB II
KAJIAN TEORI

A.    DESKRIPSI TEORI
1.      Pembelajaran Penjasorkes (Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan)
Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Sugihartono, 2007: 74). Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, siswa dan guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses, yakni proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Dari segi guru proses belajar tampak sebagai perilaku belajar tentang suatu hal. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar (Dimyati, 2006: 17).
Menurut Gulo dalam Sugihartono, dkk (2007: 80), mendefinisikan pembelajaran sebagai usaha untuk menciptakan system lingkungan yang mengoptimalkan kegiatan belajar. Erman Suherman, dkk (2003: 8) menyatakan bahwa pembelajaran adalah upaya penataan lingkungan yang memberi bantuan agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Pengertian pembelajaran menurut Sugihartono, dkk (2007: 81) merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, mengorganisasi atau menciptakan sistem lingkungan dengan cara berbagai metode sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien serta dengan hasil optimal.
Dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI (BSNP, 2007: 1), Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, ketrampilan gerak, ketrampilan berfikir kritis, ketrampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat.
Dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI (BSNP, 2007: 2), Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
a.       Mengembangkan ketrampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagi aktivitas jasmani jasmani dan olahraga yang terpilih.
b.      Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik.
c.       Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan gerak dasar.
d.      Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendiidkan jasmani, olahraga, dan kesehatan.
e.       Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis.
f.       Mengembangkan ketrampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
g.      Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan pembelajaran yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan fisik, psikis, ketrampilan motorik, pengetahuan, penalaran, serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan pertumbuhan kualitas psikis dan psikis yang seimbang.

2.      Senam Kesegaran Jasmani
Senam dikenal di Indonesia sebagai salah satu cabang olahraga. Dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah Gymnastic dari asal kata Gymnos bahasa Yunani yang artinya telanjang. Istilah gymnastic tersebut dipakai untuk menunjukkan kegiatan kegiatan fisik yang memerlukan keleluasaan gerak, sehingga perlu dilakukan dengan telanjang atau setengah telanjang. Hal ini bisa terjadi karena pada waktu itu teknologi pembuatan bahan pakaian belum memungkinkan membuat pakaian yang bersifat lentur dan mengikuti gerak pemakainya. Senam didefinisikan sebagai latihan fisik yang dipilih, disusun dan dirangkai secara sistimatis sehingga berguna untuk tubuh, sikap, kesehatan serta kebugaran jasmani (Berty Tilarso, 2000: 1).
Menurut Giriwijoyo dalam Suriyah (2005 : 11) tentang pengertian kesegaran jasmani adalah kecocokam keadaan fisik terhadap tugas yang harus dilaksanakan oleh fisik itu. Atau dengan perkataan lain untuk dapat melaksanakan tugas fisik tertentu dengan hasil yang baik, diperlukan syarat-syarat fisik tertentu yang sesuai dengan sifat fisik itu. Berdasarkan pendapat tersebut bahwa setiap orang memerlukan kesegaran yang sesuai dengan pekerjaan atau kegiatan yang dia lakukan, misalnya orang yang bekerja di kantor akan lain kebutuhan kesegarannya bila dibandingkan dengan orang yang bekerja dilapangan.
Menurut Gabard (1987: 50) kesegaran jasmani mempunyai beberapa komponen. Komponen-komponen itu adalah: kecepatan, kekuatan, keseimbangan dan kordinasi. Kecepatan adalah suatu kemampuan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu sesingkat mungkin. Kekuatan adalah kemampuan melawan tahanan dengan suatu kecepatan dan kontraksi yang tinggi. Keseimbangan adalah suatu kemampuan mempertahankan posisi tubuh dalam keseimbangan pada situasi gerakan statis maupun dinamis. Koordinasi adalah kemampuan untuk menggabungkan sistim motor dan sensori menjadi suatu pola gerak yang lebih efisien.
Dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI (BSNP, 2007: 2), salah satu ruang lingkup aspek mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan adalah aktivitas ritmik. Aktivitas ritmik ini disebut senam, yaitu yang meliputi gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic. Senam adalah latihan jasmani/olahraga yang bentuk gerakan-gerakannya dipilih dan disusun secara sistematis berdasarkan prinsip-prinsip tertentu sesuai dengan kebutuhan atau tujuan penyusun.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kesegaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan masih mampu melakukan perkerjaan yang lain yang bersifat rekreasi. Atau dengan kata lain bahwa seseorang yang memiliki kesegaran jasmani yang baik adalah orang yang cukup mempunyai kesanggupan dan kemampuan untuk melakukan pekerjaannya dengan efisien tanpa menimbulkan kelelahan berarti.

3.      Motivasi Belajar Senam Kesegaran Jasmani
Motivasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 756) adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Motivasi merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya pada proses belajar siswa. Tanpa adanya motivasi maka proses belajar siswa akan sukar berjalan. Menurut Callahan dan Clark didalam E. Mulyasa (2004: 112) mengemukakan motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu. Menurut McDonald motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan (Oemar Hamalik 2002: 173).
Menurut M. Sobry Sutikno (2007) dalam (http://www.bruderfic.or.id/h-129/peran-guru-dalam-membangkitkan motivasi-belajar-siswa.html), motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).
Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik. Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar (Sobry Sutikno: 2007).
Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Menurut M. Sobry Sutikno (2007) dalam (http://www.bruderfic.or.id/h-129/peran-guru-dalam-membangkitkan-motivasi-belajar-siswa.html), ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
a.       Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
b.      Hadiah
c.       Saingan/kompetisi
d.      Pujian
e.       Hukuman
f.       Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
g.      Membentuk kebiasaan belajar yang baik
h.      Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
i.        Menggunakan metode yang bervariasi

Menurut Namce (2008) yang dikutip dalam (http://namce8081.wordpress.com/category/pendidikan/motivasi-belajar/), aspek-aspek motivasi belajar dapat berupa:
a.       Perhatian terhadap materi pelajaran.
b.      Pandangan terhadap keterkaitan materi pelajaran dengan keinginan dan kehidupan sehari-hari.
c.       Keyakinan / kepercayaan.
d.      Kepuasan, ketekunan, keuletan.
e.       Keinginan membantu teman, kelompok belajar.
f.       Keinginan menyelesaikan tugas dan masalah.
g.      kemauan bertanya terhadap materi yang belum dikuasai.
Menurut Giriwijoyo dalam Suriyah (2005 : 11) tentang pengertian kesegaran jasmani adalah kecocokam keadaan fisik terhadap tugas yang harus dilaksanakan oleh fisik itu. Atau dengan perkataan lain untuk dapat melaksanakan tugas fisik tertentu dengan hasil yang baik, diperlukan syarat-syarat fisik tertentu yang sesuai dengan sifat fisik itu. Berdasarkan pendapat tersebut bahwa setiap orang memerlukan kesegaran yang sesuai dengan pekerjaan atau kegiatan yang dia lakukan, misalnya orang yang bekerja di kantor akan lain kebutuhan kesegarannya bila dibandingkan dengan orang yang bekerja dilapangan.
Dari beberapa pengertian motivasi, disimpulkan bahwa motivasi belajar senam kesegaran jasmani adalah daya penggerak yang dapat merangsang kegiatan belajar, misalnya tekun dalam menghadapi tugas, ulet dalam menghadapi kesulitan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin yang akan mengarahkan dan menggerakkan siswa untuk mempelajari senam kesegaran jasmani demi mencapai tujuan tertentu.
4.      Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. Selain itu dalam pembelajaran kooperatif siswa tidak hanya cukup duduk-duduk sehingga sebagai sebuah kelompok dan hanya satu siswa yang mengerjakan tugas, akan tetapi dalam pembelajaran kooperatif perlu adanya interaksi antar sesama anggota kelompok untuk membahas suatu masalah atau tugas (Erman Suherman 2003: 260).
Dalam pembelajaran dengan Cooperative Learning siswa berlatih mendengar dan menghargai pendapat orang lain, saling membantu dalam membangun pengetahuan baru dengan mengintegrasikan pengetahuan lama masing – masing individu. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan sikap positif siswa terhadap pembelajaran senam serta dapat menerapkan nilai – nilai kerja sama dalam kehidupan sehari – hari.
Teknik pembelajaran kooperatif dalam budaya Indonesia yaitu gotong-royong. Anggota masyarakat mempunyai kesamaan tujuan dan saling ketergantungan satu dengan yang lainnya. Slavin (2005: 4) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah berbagai macam metode pembelajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam kelas kooperatif, siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing.
Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling membantu kesulitan yang dialami, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. Dengan demikian tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang merupakan sistem kompetisi, dimana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Akan tetapi tujuan dasar pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan kelompok ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan individu (Slavin, 2008).
Menurut Muslimin Ibrahim (2000: 10), langkah-langkah pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase
Indikator
Aktivitas Guru
1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa.

Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi lewat bahan bacaan.

3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi efisien.
4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas.
5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara untuk mengahargai upaya atau hasil belajar siswa baik individu maupun kelompok.

Pembelajaran kooperatif pada dasarnya merupakan model pembelajaran yang sistematis dengan mengelompokkan siswa untuk melakukan pembelajaran yang efektif agar siswa dapat memaksimalkan kegiatan belajar, dimana keberhasilan individu diorientasikan dalam keberhasilan kelompok. Dalam hal ini siswa bekerjasama belajar dalam kelompok serta bertanggungjawab pula terhadap kegiatan belajar siswa lain dalam kelompoknya untuk melakukan usaha yang sama, bekerja seperti yang ia lakukan.
Dalam pembelajaran kooperatif, pengelompokan dilakukan berdasarkan  heterogenitas yaitu memperhatikan keanekaragaman gender, latar belakang, agama, sosio-ekonomi, etnik, serta kemampuan akademis. Beberapa kelebihan pengelompokan secara heterogen (Anita Lie, 2005: 41-43) adalah : memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan mendukung diantara anggota kelompok, meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, agama, etnik, dan gender, serta memudahkan pengelolaan kelas karena dalam setiap kelompok paling tidak ada satu siswa yang berkemampuan akademis tinggi sehingga secara tidak langsung menjadi asisten guru bagi teman-teman dalam kelompoknya.
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mengelompokkan siswa dalam sebuah kelompok kecil yang bekerja sama saling berdiskusi dalam sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah, untuk mencapai tujuan bersama.

B.     PENELITIAN YANG RELEVAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nur Huda (2007), hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor instrinsik pada diri siswa kelas XI SMA Muhammadiah 1 Semarang tahun 2006/2007 mampu mempengaruhi motivasinya dalam mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dan dalam kategori tinggi (72,27%) sedangkan faktor ekstrinsik juga mampu mempengaruhi motivasinya dalam mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dalam kategori tinggi pula (67,19%). Tingginya pengaruh faktor intrinsik terhadap motivasi siswa disebabkan siswa telah memiliki derajat kesehatan yang sangat tinggi (80,46%), selain itu mereka juga telah memiliki perhatian yang tinggi pada mata pelajaran pendidikan jasmani (72,56%), memiliki minat yang tinggi dalam mengikuti pelajaran pendidikan jasmani (68,59%), serta memiliki bakat dalam bidang olahraga yang tinggi (66,98%). Sedangkan tingginya pengaruh faktor ekstrinsik disebabkan karena metode mengajar guru memiliki variasi yang tinggi (73,52%), alat pelajaran pendidikan jasmani yang ada memiliki inovasi dan tingkat kelengkapan yang tinggi (61,30%), waktu pelajaran memiliki kesesuaian dengan kondisi siswa yang sedang (59,51%) serta kondisi lingkungan memiliki dukungan yang tinggi (70,74%).

C.    KERANGKA BERFIKIR
Salah satu prinsip dasar dalam kegiatan pembelajaran adalah berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subjek pembelajaran dan guru sebagai pengelola proses pembelajaran. Hal tersebut dimaksudkan agar kedudukan siswa adalah sebagai pembelajar aktif sedangkan guru sebagai fasilitator dan mediator.  Motivasi merupakan hal yang diperlukan dan penting dalam pembelajaran. Dengan demikian melalui model pembelajaran kooperatif menjadikan motivasi siswa tinggi.
Pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. Selain itu dalam pembelajaran kooperatif siswa tidak hanya cukup duduk-duduk sehingga sebagai sebuah kelompok dan hanya satu siswa yang mengerjakan tugas, akan tetapi dalam pembelajaran kooperatif perlu adanya interaksi antar sesama anggota kelompok untuk membahas suatu masalah atau tugas. Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling membantu kesulitan yang dialami, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. Pembelajaran kooperatif pada dasarnya merupakan model pembelajaran yang sistematis dengan mengelompokkan siswa untuk melakukan pembelajaran yang efektif agar siswa dapat memaksimalkan kegiatan belajar, dimana keberhasilan individu diorientasikan dalam keberhasilan kelompok. Dalam hal ini siswa bekerjasama belajar dalam kelompok serta bertanggungjawab pula terhadap kegiatan belajar siswa lain dalam kelompoknya untuk melakukan usaha yang sama, bekerja seperti yang ia lakukan.
Pada saat pelaksanaan pembelajaran siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, siswa diberi tugas untuk mendiskusikan materi yang telah diajarkan oleh guru. Dalam kelompok ini siswa dituntut aktif dalam pembelajaran. Guru memotivasi siswa agar siswa aktif dalam pembelajaran.      Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan model kooperatif, guru berperan sebagai mediator lingkungan belajar dan jika diperlukan dapat memberikan arahan, petunjuk serta dorongan.
           

D.    HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah adanya peningkatan motivasi Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) dengan model pembelajaran kooperatif pada siswa kelas VI SD N I Wuryantoro.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar